Edukasi Bahasa Jawa Untuk Anak Sejak Dini Sebagai Upaya Pelestarian Budaya

Edukasi Bahasa Jawa Untuk Anak Sejak Dini Sebagai Upaya Pelestarian Budaya

Zaman globalisasi sekarang ini membuat setiap orang dapat melihat dan mengetahui apa saja yang terjadi di belahan dunia lain. Hanya dengan mengakses internet melalui smartphone, siapa saja dapat mendapatkan informasi, pengetahuan atau bahkan barang. Fenomena ini pula yang membuat arus pertukaran budaya dari satu daerah ke daerah lain menjadi lebih cepat. Tidak mengherankan jika tren budaya yang sedang booming di satu negara dapat menjadi tren pula di negara lain. Budaya ini tidak hanya berupa barang saja, namun juga produk budaya non fisik seperti bahasa. Arus pertukaran informasi dan budaya yang begitu cepat ini tidak hanya memiliki dampak positif bagi peradaban dunia, namun dampak negatifnya yang juga akan muncul. Salah satunya yaitu hilang atau punahnya budaya lokal, yang bisa saja tergerus degan budaya baru yang muncul akibat globalisasi ini.

Sudah menjadi rahasia umum jika Indonesia adalah negara dengan keanekaragamannya, termasuk juga dalam hal bahasa. Paul M. Lewis dalam Jurnal Masyarakat dan Budaya Volume 19 Nomer 3 Tahun 2017, mengatakan bahwa Indonesia adalah negara dengan jumlah bahasa terbesar kedua, setelah Papua New Guinea (PNG). Bila PNG memiliki 830 bahasa, maka indonesia memiliki 719 bahasa. Berdasarkan data ethnologue.com tahun 2015 sebagaimana diberitakan oleh liputan6.com, dari 719 bahasa tersebut, tercatat 13 telah punah, 341 diantaranya memerlukan perhatian khusus, serta 75 bahasa berstatus sekarat.

Salah satu Bahasa daerah yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah Bahasa Jawa, dengan jumlah pengguna 80 juta orang. Lalu bagaimana nasib Bahasa yang satu ini?

Tirto Suwondo, Kepala Bahasa Jawa Yogyakarta sebagaimana diberitakan Republika.com, menurutnya Bahasa Jawa belum akan punah dalam waktu dekat, tetapi hanya mengalami penurunan jumlah pemakainya. meskipun pengguna Bahasa Jawa lebih banyak dipakai oleh para orang tua, dari pada kaum muda, hal ini tidak serta merta membuat Bahasa Jawa punah begitu saja, karena di setiap tingkat pemdidikan sekolah dari SD sampai SMA masih menempatkan Bahasa Jawa sebagai salah satu mata pelajaran.

Pemberian Bahasa Jawa Sejak Dini

Edukasi Bahasa Jawa Untuk Anak Sejak Dini Sebagai Upaya Pelestarian Budaya

Pembelajaran bahasa merupakan hal pertama  yang harus diberikan kepada anak di awal masa bejalarnya. Bahasa sebagai alat komunikasi menjadi penghantar bagi anak untuk mempelajari ilmu-ilmu baru selanjutnya. Bahasa ibu atau bahasa keseharian menjadi bahasa pertama yang dipelajari oleh anak. Namun belakangan ini, penggunaan bahasa daerah menjadi bahasa ibu semakin menurun penerapannya, salah satunya yaitu Bahasa Jawa. Hal itu pula yang membuat banyak anak-anak dari keluarga masyarakat Jawa yang kurang mengerti dan memahami bahasa daerahnya sendiri. Tentu ini menjadi fakta ironis dalam masyarakat kita. Untuk itu lah pembelajaran bahasa daerah perlu untuk lebih digencarkan.

Selain Pendidikan Bahasa Jawa yang diberikan di sekolah formal, alangkah lebih baik jika para orang tua juga memberikan pemahaman lebih ketika dirumah. Semakin berkurungnya keluarga yang menggunakan Bahasa Jawa sebagai Bahasa ibu bagi anak, juga menjadi salah satu penyebab budaya daerah ini semakin ditinggalkan. Membiasakan anak menggunakan Bahasa Jawa atau pun Bahasa daerah lainnya, bukan berarti tidak mencintai Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Indonesia yang terdiri dari beragam suku, Bahasa dan budaya, akan semakin kuat dan bersatu ketika ketiga unsur tersebut tetap dijaga dan dilestarikan. Berikut adalah beberapa alasan mengapa orang tua perlu untuk memberikan Pendidikan Bahasa Jawa kepada anak sejak dini.

  1. Menanamkan nilai kesopanan

Bahasa Jawa yang memiliki tingkatan Bahasa dari mulai ngoko sampai krama inggil , membuat pemakainya tidak hanya belajar berbahasa namun juga belajar bertingkah laku yang baik. Bahasa Jawa tidak hanya mengajarkan bagaimana berkomunikasi, namun juga dalam waktu yang bersamaan menanamkan sifat dan sikap kesopanan. Jika anak mengetahui seperti apa perbedaan penggunaan tingkatan bahasa tersebut, ketika bercakap-cakap dengan lawan bicara. Maka bisa dipastikan jika anak tersebut sudah mengetahui bagaimana harus bertingkah laku kepada teman sebaya, orang yang baru dikenal atau orang yang lebih dihormati.

  1. Menanamkan rasa menghormati

Salah satu tingkatan Bahasa Jawa yang paling tinggi adalah Bahasa Jawa Krama. Bahasa Krama ini digunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau yang dituakan dan dihormati. Hal ini pula yang menjadikan anak menjadi paham mengenai unggah-ungguh dalam berlingkah laku.

  1. Mempererat hubungan kekeluargaan

Ketika anak mampu untuk menggunakan Bahasa Jawa yang baik dan benar sesuai dengan lawan bicaranya. Sebagai contoh, saat anak mengunakan Bahasa Jawa Krama ketika berbicara dengan anggota keluarga yang dianggap lebih tua dan dihormati, sepeti ibu, bapak, kakek, nenek, bibi, paman dan lainnya. Maka dengan sendirinya akan terjalin hubungan kekeluargaan yang lebih erat. Yang muda bersikap menghormati sedangkan orang tua merasa dihargai.