Pendidikan Islam Sebagai Sarana Pembentukan Karakter Anak

Pendidikan Islam Sebagai Sarana Pembentukan Karakter Anak

Pendidikan serta lingkungan yang ramai dengan pengajaran Islam belakangan ini nyatanya belum mampu membentuk masyarakat atau individu yang Islami. Banyak ditemukan orang yang terlihat rajin beribadah, namun sering kali ucapan dan tingkah lakunya menyakiti atau bahkan merugikan orang lain. Lalu, apa yang salah dengan pendidikan Islam di Indonesia?

Keberhasilan pendidikan agama Islam ditentukan oleh banyak faktor salah satunya yaitu pesan dakwah yang disampaikan. Pada dasarnya pesan dakwah bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis, namun diluar itu juga dapat diambil dari pendapat para sahabat, pendapat para ulama, kisah-kisah.

Pembahasan mengenai sholat, puasa, zakat, haji lebih banyak dari pada pembahasan mengenai hubungan dengan sosial dan lingkunga. Penjelasan mengenai sholat, puasa, zakat, dan haji pun hanya sampai pada tataran melaksanakan kewajiban Tuhan saja. Hal ini memang tidaklah salah, namun kurang tepat dan mengena dalam menciptakan masyarakat yang islami.

Selain pesan dakwah yang lebih sering mengenai syariah, faktor lain yang menjadi penghalang adalah pesan dakwah yang kurang variatif. Contohnya ketika bulan Ramadhan, pesan dakwah mengenai setan akan dibelenggu ketika bulan Ramadhan, terus disampaikan berkali-kali. Hal ini tentu membuat mitra dakwah menjadi bosan dengan tema yang itu-itu saja.

Faktor lain yang juga berpengaruh dalam keberhasilan pendidikan Agama Islam yaitu mengenai peran keluarga dalam proses tersebut. Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Para filsuf juga mengatakan bahwa masyarakat adalah sebuah struktur yang terdiri dari keluarga. Baik buruknya suatu masyarakat dapat dilihat dari hubungan yang terjalin dalam keluarganya. Peran keluarga dalam membentuk perilaku individu memanglah sangat besar dan utama. Sering kali pendidikan anak sepenuhnya diserahkan kepada pengajar dilembaga-lembaga seperti sekolah dan Taman Pendidikan Al-quran (TPA). Proses pengajaran itu kemudian tidak diteruskan kembali ketika di rumah.

Keluarga sebagai sarana belajar agama

Pendidikan Islam Sebagai Sarana Pembentukan Karakter Anak

Seperti dijelaskan di atas, sering kali para orang tua tidak lagi memperhatikan pendidikan anak dan merasa kewajiban mendidik telah selesai ketika memasukkan anak ke sekolah. Padahal anak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dari pada di sekolah. Sehingga pengajaran yang diberikan di rumah juga sangat penting bagi keberhasilan pendidikan anak itu sendiri. Tidak terkecuali dengan pendidikan agama.

Sehingga pembinaan agama dalam keluarga menjadi sangat penting. keluarga sebagai Lembaga pendidikan anak yang pertama dan utama. Selain untuk mempersiapkan generasi-generasi penerus bangsa yang berkualitas. Pendidikan geluarga ini juga sebagai pondasi serta bekal bagi anak untuk siap di masyarakat yang penuh dengan dinamika. Banyak sekali tokoh-tokoh bangsa yang memiliki kemampuan serta pengaruh yang besar adalah berasal dari keluarga yang selalu menanamkan pendidikan agama dan budi pekerti sejak dini.

Banyak cerita-cerita dalam Al-quran yang menceritakan mengenai keberhasilan pendidikan agama dalam keluarga. Kisah Nabi Ibrahin as yang berhasil mendidik anak dan keluarganya, sehingga banyak dari keturunannya menjadi nabi dan rasul.

Berikut adalah beberapa tips hal kecil yang dapat orang tua lakukan untuk menanamkan perilaku beragama dan berperilaku baik pada anak:

  1. Menajarkan anak berdo’a dengan Bahasa yang dimengerti.

Tidak salah memang mengajari anak berdo’a dengan menggunakan Bahasa Arab seperti kebanyakan pendidikan Islam  di Indonesia. Namun alangkah baiknya jika anak juga dijelaskan apa maksud dari ucapan tersebut. Sehingga do’a-do’a yang berisi rasa syukur kepada Tuhan atau rasa penyesalan atas kesalahan yang dilakukan,benar-benar menancam di hati. Kemudian dapat melahirkan perilaku-perilaku yang sesuai dengan tuntunan agama

  1. Tidak hanya berfokus pada ibadah ritual.

Membiasakan anak untuk berperilaku dan bertingkah laku positif, serta peduli kepada sesama. Menceritakan dongeng-dongen inspiratif dari tokoh atau orang lain juga bisa menjadi alternatif cara pembelajaran untuk menanamkan sifat dan sikap tersebut.

  1. menanamkan cinta kasih.

Sering ditemui orang tua yang menggunakan cara menakut-nakuti agar anak mau beribadah atau berperilaku sesuai dengan ketentuan agama. Siksa Tuhan sering kali menjadi ancaman yang kerap diutarakan. Cara itu memang tidak bisa dikatakan salah, namun alangkah baiknya juga menjelaskan kasih Tuhan yang lebih banyak, yang melebihi siksa-Nya. Diharapkan dengan pemahaman yang seperti itu, anak akan lebih memiliki rasa empati, belas kasih, dan peduli dengan orang lain.

  1. Memberi nasihat dan dorongan untuk selalu berbuat baik

Pemberian nasihat ini akan membuat anak merasa termotivasi untuk selaku berperilaku baik, sehingga ketika melalukan kesalahan ia akan segera menyadari dan kembali pada atauran agama yang berlaku.

  1. Mencontohkan keteladanan

Rumah merupakan sekolah pertama bagi anak. Sehingga ucapan dan tingkah laku keluarga merupakan pelajaran yang dapat dilihat dan ditiru oleh anak. Memperlihatkan keteladanan berupa perilaku positif dan rajin beribadah, merupakan cara yang efektif untuk sebuah keberhasilan pendidikan.